Contents
Indonesia juga telah memiliki regulasi pengujian kendaraan listrik dan baterainya. Hal ini membuat kebutuhan alat uji battery testing untuk pabrik baterai semakin penting, baik untuk R&D, quality control, produksi maupun validasi akhir.
Hal ini berkaitan dengan perkembangan kendaraan listrik membuat baterai tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber energi. Pada kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), baterai menjadi komponen utama yang menentukan jarak tempuh, performa, keselamatan, hingga umur kendaraan.
Karena bekerja dengan energi dan tegangan yang relatif tinggi, baterai EV harus melewati serangkaian pengujian sebelum digunakan. Produsen perlu mengevaluasi performa sel, internal resistance, kapasitas, reliability, hingga kemampuan sistem menghadapi kondisi abnormal.
Regulasi Pengujian Baterai EV di Indonesia
Salah satu regulasi yang berkaitan langsung dengan kendaraan listrik di Indonesia adalah Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 87 Tahun 2020 tentang Pengujian Tipe Fisik Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.
Pada Pasal 15 disebutkan bahwa setiap baterai listrik harus dilakukan pengujian. Regulasi tersebut juga mengatur instalasi baterai, karakteristik esensial baterai, serta ketentuan tertentu terkait pemasangan dan keselamatannya. Selain regulasi pemerintah, terdapat sejumlah SNI yang menjadi referensi penting dalam pengujian baterai kendaraan listrik.
1. SNI IEC 62660-1:2017
Standar ini membahas pengujian unjuk kerja sel lithium-ion sekunder untuk penggerak kendaraan listrik. Pengujiannya mencakup karakteristik seperti:
- kapasitas
- power density
- energy density
- storage life
- cycle life
Standar tersebut ditujukan untuk memperoleh data karakteristik dasar sel yang nantinya digunakan dalam desain battery system maupun battery pack.
2. SNI IEC 62660-2:2017
Jika bagian pertama lebih berfokus pada performa, SNI IEC 62660-2:2017 membahas reliability dan abuse testing pada sel lithium-ion untuk BEV dan HEV. Pengujian seperti ini penting untuk melihat bagaimana baterai bereaksi ketika menghadapi kondisi di luar penggunaan normal.
3. SNI 9102:2022
Indonesia juga telah memiliki SNI 9102:2022 mengenai Rechargeable Electrical Energy Storage System atau REESS Standard untuk kendaraan bermotor listrik kategori L. Standar tersebut berhubungan dengan persyaratan pengujian kinerja untuk pack dan sistem baterai lithium-ion.
4. SNI ISO 12405-4:2018
Untuk level pack dan sistem baterai traksi lithium-ion, terdapat SNI ISO 12405-4:2018 yang mengatur spesifikasi pengujian kinerja battery pack dan system pada electrically propelled road vehicles. Artinya, pengujian baterai EV tidak hanya dilakukan pada level kendaraan akhir, tetapi mencakup karakterisasi dari cell hingga battery pack. Untuk perusahaan yang sedang membangun fasilitas pengujian, berbagai kategori alat uji EV Industry di Indonesia dari EMS Technologi dapat digunakan untuk mendukung proses tersebut.
Standar Internasional untuk Pengujian Baterai EV
Selain regulasi dan SNI di Indonesia, produsen yang masuk ke pasar internasional juga perlu memahami standar global. Beberapa standar yang sering menjadi referensi antara lain:
1. IEC 62660
IEC 62660 merupakan seri standar internasional untuk secondary lithium-ion cells yang digunakan pada kendaraan listrik. IEC 62660-1 mencakup performance dan life testing, termasuk pengukuran kapasitas, energy density, power density, storage life dan cycle life.
2. UN Regulation No. 100
UN Regulation No. 100 atau UN R100 menjadi salah satu referensi penting mengenai keselamatan sistem electric powertrain dan Rechargeable Electrical Energy Storage System. Regulasi ini terus mengalami pembaruan dan UNECE telah menerbitkan Revision 3 beserta sejumlah amendment berikutnya.
3. UN GTR No. 20
UN Global Technical Regulation No. 20 membahas Electric Vehicle Safety dan menjadi bagian dari harmonisasi persyaratan keselamatan kendaraan listrik secara internasional.
4. UN 38.3
Untuk baterai lithium yang akan dikirim atau ditransportasikan, UN Manual of Tests and Criteria subsection 38.3 menjadi referensi penting. Pengujian tersebut berkaitan dengan kemampuan baterai menghadapi berbagai kondisi yang dapat terjadi selama transportasi. UNECE saat ini telah menyediakan Manual of Tests and Criteria Revision 8 beserta Amendment 1 tahun 2025.
Namun perlu dipahami bahwa regulasi, standar teknis, homologasi kendaraan, dan persyaratan transportasi memiliki ruang lingkup berbeda. Standar yang harus digunakan perlu disesuaikan dengan jenis produk, pasar tujuan, level pengujian, dan persyaratan sertifikasi.
Parameter Apa Saja yang Diperiksa pada Baterai EV?
Battery testing di industri dapat mencakup banyak parameter. Beberapa parameter dasar yang sering diperiksa antara lain:
| Parameter | Tujuan Pengujian |
| Open Circuit Voltage | Melihat tegangan cell tanpa beban |
| Internal Resistance | Mendeteksi perubahan resistansi internal |
| Impedance | Menganalisis karakteristik elektrokimia cell |
| Capacity | Menentukan energi yang dapat disimpan |
| Charge-Discharge | Mengevaluasi karakteristik penggunaan energi |
| Temperature | Memantau respons termal baterai |
| Cycle Life | Mengukur degradasi setelah sejumlah siklus |
| Insulation Resistance | Mengevaluasi isolasi pada sistem tegangan tinggi |
| Cell Balance | Membandingkan karakteristik antar cell |
Karena parameter tersebut berbeda, jenis alat penguji yang digunakan juga harus disesuaikan. Pembahasan mengenai jenis peralatan tersebut dapat dilihat pada kategori battery tester EMS Technology.
HIOKI BT4560-60 untuk Analisis Impedansi Baterai Lithium-Ion

Untuk kebutuhan R&D baterai lithium-ion, HIOKI BT4560-60 Battery Impedance Meter menjadi salah satu solusi yang relevan. High capacity lithium-ion cell dapat memiliki impedansi internal di bawah 1 mΩ. Perubahan yang sangat kecil tersebut sulit dianalisis menggunakan alat ukur biasa.
BT4560-60 mampu mengukur impedansi yang sangat rendah dengan measurement range mulai dari 3 mΩ serta mendukung frequency sweep dari 0,01 Hz hingga 10 kHz. Alat ini mengukur parameter resistance (R), reactance (X), impedance (Z), dan phase angle.
Salah satu fitur menariknya adalah kemampuan menghasilkan data frequency sweep yang dapat digunakan untuk membuat Nyquist plot. Dari analisis impedansi pada berbagai frekuensi, engineer dapat memperoleh informasi lebih mendalam mengenai karakteristik cell dibanding hanya mengukur DC voltage.
BT4560-60 juga menggunakan four-terminal pair measurement untuk meningkatkan kestabilan pengukuran impedansi yang sangat rendah. Karena input voltage-nya hingga 5 V, penggunaan BT4560-60 lebih mengarah pada pengujian individual cell, bukan pengukuran langsung terhadap keseluruhan high-voltage EV battery pack.
Bagaimana dengan HIOKI BT3554-50?

HIOKI BT3554-50 memiliki fungsi yang berbeda. Battery tester portable ini mengukur internal resistance dan tegangan baterai secara bersamaan. Resistance measurement-nya mencakup rentang 3 mΩ hingga 3 Ω, sedangkan pengukuran tegangan mencapai ±60 V DC.
BT3554-50 dirancang terutama untuk diagnosis baterai UPS, storage battery, dan lead-acid battery. Karena karakteristik tersebut, BT3554-50 sebaiknya tidak diposisikan sebagai alat utama untuk karakterisasi electrochemical traction cell EV.
Dalam ekosistem industri EV, alat ini lebih relevan untuk pekerjaan maintenance baterai pendukung, sistem power backup, fasilitas produksi, maupun berbagai stationary battery yang berada di lingkungan pabrik. Untuk pengujian lithium-ion cell yang memerlukan analisis impedansi presisi, BT4560-60 lebih sesuai.
Pemilihan battery tester yang tepat berdasarkan aplikasinya juga dibahas dalam artikel battery tester untuk memeriksa kondisi baterai lithium.
Regulasi dan standar pengujian baterai EV semakin penting seiring berkembangnya industri kendaraan listrik di Indonesia. Permenhub No. 87 Tahun 2020 mengatur pengujian baterai pada kendaraan listrik, sementara standar seperti SNI IEC 62660, SNI 9102:2022, dan SNI ISO 12405-4:2018 memberikan referensi teknis untuk pengujian dari level cell hingga battery system. Di tingkat internasional, IEC 62660, UN R100, UN GTR No. 20, dan UN 38.3 menjadi beberapa referensi penting dengan ruang lingkup yang berbeda.
Dari sisi instrumen, HIOKI BT4560-60 cocok untuk analisis impedansi dan karakterisasi lithium-ion cell pada tahap R&D, sedangkan HIOKI BT3554-50 lebih sesuai untuk inspeksi dan maintenance baterai stasioner maupun lead-acid.
Untuk kebutuhan pengembangan laboratorium, produksi, dan pengujian EV, EMS Technology menyediakan berbagai solusi testing dan measurement termasuk produk HIOKI serta peralatan pengujian baterai lainnya. Pemilihan perangkat dapat disesuaikan dengan parameter, level cell/module/pack, standar pengujian, dan proses produksi yang digunakan.
FAQ tentang Pengujian Baterai EV
Apa standar pengujian baterai EV di Indonesia?
Beberapa referensinya antara lain SNI IEC 62660-1:2017, SNI IEC 62660-2:2017, SNI 9102:2022, dan SNI ISO 12405-4:2018. Penerapannya harus disesuaikan dengan jenis baterai dan ruang lingkup pengujian.
Apakah HIOKI BT4560-60 cocok untuk baterai EV?
Ya, terutama untuk penelitian dan karakterisasi individual lithium-ion cell. BT4560-60 mampu melakukan pengukuran impedansi sangat rendah dan frequency sweep untuk analisis karakteristik cell.
Apakah BT3554-50 bisa digunakan untuk traction battery EV?
BT3554-50 terutama dirancang untuk diagnosis UPS dan lead-acid storage battery. Untuk karakterisasi lithium-ion traction cell EV, instrumen seperti BT4560-60 lebih relevan.
Apa perbedaan battery tester dan battery charge-discharge tester?
Battery tester dapat digunakan untuk mengukur parameter seperti voltage, resistance, atau impedance. Charge-discharge tester digunakan untuk memberikan siklus pengisian dan pengosongan sehingga kapasitas, efficiency, dan cycle performance dapat dianalisis.
Apakah satu battery tester cukup untuk sertifikasi baterai EV?
Tidak. Pemenuhan standar EV biasanya membutuhkan beberapa metode dan peralatan pengujian, mulai dari electrical testing, environmental testing hingga mechanical dan safety testing.










