Contents
- 1 Apa Itu Condition Monitoring?
- 2 Parameter dalam Condition Monitoring
- 3 Bagaimana Condition Monitoring Diterapkan?
- 4 Thermal Inspection dalam Condition Monitoring
- 5 Apa yang Bisa Diperiksa dengan Thermal Inspection?
- 6 HIKMICRO M Series untuk Thermal Inspection
- 7 FAQ tentang Condition Monitoring
- 7.1 1. Apa yang dimaksud dengan condition monitoring?
- 7.2 2. Apa perbedaan condition monitoring dan preventive maintenance?
- 7.3 3. Parameter apa yang digunakan dalam condition monitoring?
- 7.4 4. Apa fungsi thermal camera dalam condition monitoring?
- 7.5 5. Apakah HIKMICRO M Series dapat digunakan untuk inspeksi industri?
Condition monitoring adalah metode ini membantu tim maintenance memantau kondisi aktual suatu aset berdasarkan parameter tertentu sehingga gejala kerusakan dapat diketahui lebih awal.
Salah satu metode yang banyak digunakan dalam condition monitoring adalah thermal inspection. Dengan memanfaatkan thermal camera, teknisi dapat melihat distribusi temperatur pada motor, panel listrik, bearing, sambungan kabel, hingga berbagai komponen lain tanpa harus menyentuh objek secara langsung. Lalu, apa sebenarnya condition monitoring dan parameter apa saja yang perlu diperhatikan?
Apa Itu Condition Monitoring?
Condition monitoring adalah proses pemantauan kondisi mesin atau aset berdasarkan parameter operasional tertentu untuk mengetahui perubahan yang dapat mengindikasikan adanya gangguan atau penurunan performa.
Berbeda dengan maintenance yang hanya dilakukan berdasarkan jadwal, condition monitoring menggunakan kondisi aktual peralatan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan. Misalnya sebuah motor listrik biasanya mempunyai temperatur operasi yang relatif stabil.
Ketika dalam inspeksi berikutnya ditemukan temperatur pada salah satu bearing jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya, tim maintenance dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum bearing tersebut benar-benar mengalami kerusakan.
Cara seperti ini membantu perusahaan bergerak dari sekadar reactive maintenance menuju preventive bahkan predictive maintenance. Thermal imaging sendiri dapat membantu teknisi melihat kondisi peralatan, membandingkan hasil antar inspeksi, dan menentukan kebutuhan maintenance berdasarkan kondisi aktual peralatan.
Parameter dalam Condition Monitoring
Parameter yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis mesin dan kemungkinan failure mode yang ingin dideteksi. Berikut beberapa parameter yang perlu dipantau.
1. Temperatur
Temperatur merupakan salah satu parameter yang relatif mudah digunakan untuk mengetahui perubahan kondisi mesin. Kenaikan temperatur yang tidak biasa dapat berkaitan dengan berbagai masalah, misalnya:
- bearing mengalami masalah;
- gesekan berlebihan;
- motor mengalami overheating;
- koneksi listrik longgar;
- distribusi beban tidak seimbang;
- sistem pendinginan terganggu; atau
- komponen bekerja melewati kondisi normal.
Pengukuran dapat dilakukan menggunakan sensor temperatur maupun thermal camera. Keunggulan thermal camera adalah teknisi dapat melihat distribusi panas dalam bentuk gambar, sehingga tidak hanya mengetahui nilai suhu pada satu titik.
2. Vibration atau Getaran
Getaran menjadi parameter penting dalam condition monitoring rotating equipment. Perubahan pola vibration dapat memberikan indikasi masalah seperti:
- misalignment;
- imbalance;
- bearing defect;
- looseness; atau
- kerusakan pada rotating component.
Karena itu, vibration analysis banyak diterapkan pada motor, pump, fan, gearbox, compressor, dan mesin berputar lainnya. Hasil vibration monitoring biasanya dianalisis berdasarkan trend maupun karakteristik frekuensinya.
3. Arus dan Tegangan
Pada sistem kelistrikan, perubahan karakteristik arus dan tegangan juga dapat memberikan informasi mengenai kondisi equipment. Parameter yang dapat diperiksa antara lain:
- current;
- voltage;
- phase imbalance;
- power consumption; dan
- perubahan beban.
Data electrical measurement dapat dikombinasikan dengan parameter lainnya untuk mendapatkan gambaran kondisi mesin yang lebih lengkap.
4. Suara dan Ultrasonic
Tidak semua gangguan menghasilkan perubahan temperatur atau vibration yang langsung terlihat. Beberapa kerusakan menghasilkan karakteristik suara tertentu. Metode acoustic dan ultrasonic inspection dapat digunakan untuk mendeteksi sejumlah kondisi seperti kebocoran udara bertekanan, discharge pada sistem listrik, hingga perubahan suara pada bearing. Karena itu, kondisi sebuah aset idealnya tidak dinilai hanya berdasarkan satu jenis pengukuran.
5. Kondisi Pelumas
Pada mesin yang menggunakan lubrication system, kondisi oli juga dapat menjadi indikator kesehatan equipment. Analisis dapat dilakukan terhadap kontaminasi, partikel logam, viskositas, kandungan air, hingga karakteristik lainnya. Hasilnya dapat membantu mengetahui indikasi wear pada internal component yang sulit diperiksa ketika mesin masih beroperasi.
Bagaimana Condition Monitoring Diterapkan?
Penerapan condition monitoring sebaiknya dilakukan secara sistematis. Bukan sekadar datang ke mesin, melakukan pengukuran satu kali, kemudian menyimpulkan kondisinya.
1. Tentukan Equipment yang Dipantau
Prioritaskan aset berdasarkan tingkat criticality. Equipment yang kerusakannya dapat menghentikan proses produksi biasanya memerlukan perhatian lebih besar dibandingkan aset non-critical.
Contohnya:
- motor utama;
- generator;
- transformer;
- compressor;
- pump;
- electrical panel;
- gearbox; dan
- production machine.
2. Tentukan Parameter yang Cocok
Setiap failure mode membutuhkan metode monitoring yang berbeda. Misalnya, masalah bearing dapat diperiksa melalui vibration dan temperatur. Sementara masalah koneksi pada panel listrik lebih mudah ditemukan menggunakan electrical measurement dan thermal inspection.
3. Buat Baseline Kondisi Normal
Data akan lebih berguna jika mempunyai pembanding. Karena itu, catat kondisi mesin ketika masih bekerja normal sebagai baseline. Ketika inspeksi berikutnya dilakukan, hasil terbaru dapat dibandingkan terhadap baseline tersebut.
Thermal camera dapat membantu fasilitas membangun baseline equipment untuk digunakan dalam evaluasi selanjutnya. Perbandingan komponen pada kondisi operasional yang serupa juga membantu teknisi mengenali temperature anomaly.
4. Lakukan Pengukuran Secara Berkala
Condition monitoring membutuhkan konsistensi. Interval pemeriksaan dapat disesuaikan dengan:
- criticality equipment;
- operating hours;
- kondisi lingkungan;
- riwayat kerusakan; dan
- rekomendasi maintenance.
Hasil pengukuran kemudian disimpan untuk melihat trend dari waktu ke waktu.
5. Analisis Segala Perubahanya
Satu angka yang tinggi belum tentu langsung menunjukkan kerusakan. Kondisi operating load, temperatur lingkungan, durasi operasi, dan karakteristik equipment juga harus dipertimbangkan. Karena itu, salah satu hal yang penting dalam condition monitoring adalah melihat perubahan atau trend.
Thermal Inspection dalam Condition Monitoring
Thermal inspection merupakan metode inspeksi yang menggunakan teknologi infrared untuk melihat distribusi temperatur pada permukaan objek. Kamera termal mendeteksi radiasi infrared kemudian menyajikannya sebagai thermal image. Melalui gambar tersebut, teknisi dapat melihat bagian yang mempunyai temperatur berbeda dibandingkan area di sekitarnya.
Metode ini menarik untuk condition monitoring karena pemeriksaan dapat dilakukan secara non contact. Artinya, banyak peralatan dapat diperiksa ketika masih beroperasi tanpa teknisi harus memasang sensor secara langsung pada setiap titik.
Thermal imaging sebagai salah satu metode yang dapat digunakan dalam preventive dan predictive maintenance. Pola temperatur dapat dibandingkan untuk mencari anomaly, sedangkan pengukuran temperatur membantu menentukan tingkat keparahan suatu masalah sebelum dilakukan tindakan perbaikan.
Apa yang Bisa Diperiksa dengan Thermal Inspection?
Penggunaannya cukup luas, terutama pada electrical dan mechanical equipment.
1. Electrical Panel
Thermal inspection dapat membantu mencari temperature anomaly pada:
- breaker;
- fuse;
- terminal;
- busbar;
- contactor; dan
- sambungan kabel.
Koneksi yang mempunyai resistance lebih tinggi dapat menghasilkan panas dibandingkan komponen sejenis. Karena itu, perbandingan temperatur antar-fase maupun komponen dengan beban serupa dapat menjadi bagian penting dalam inspeksi.
2. Motor Listrik
Pada motor listrik, pemeriksaan termal dapat diarahkan ke:
- housing;
- bearing;
- terminal;
- shaft area; dan
- cooling system.
Overheating pada motor dapat berkaitan dengan overload, masalah ventilasi maupun kegagalan komponen seperti bearing. Pemeriksaan pola termal secara rutin dapat membantu menemukan indikasinya lebih awal. Untuk pemeriksaan motor, thermal imaging juga dapat dikombinasikan dengan sejumlah metode electrical motor safety testing agar evaluasi kondisi motor lebih menyeluruh.
3. Bearing dan Rotating Equipment
Bearing yang mengalami friction berlebih dapat menunjukkan peningkatan temperatur. Namun hasilnya tetap perlu dibandingkan dengan:
- bearing sejenis;
- temperatur sebelumnya;
- operating load; dan
- kondisi lingkungan.
Dengan demikian, teknisi tidak hanya melihat apakah sebuah bearing “panas”, tetapi melihat apakah temperatur tersebut berbeda dari kondisi normalnya.
4. Transformer dan Sistem Kelistrikan
Thermography juga banyak digunakan untuk pemeriksaan berbagai bagian sistem tenaga listrik. Temperature anomaly dapat menjadi petunjuk adanya perubahan kondisi yang kemudian perlu diperiksa lebih lanjut menggunakan metode pengujian yang sesuai.
HIKMICRO M Series untuk Thermal Inspection

Untuk mendukung thermal inspection, teknisi membutuhkan thermal camera yang mampu memberikan thermal image sekaligus data temperatur yang dapat dianalisis. Salah satu seri yang dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut adalah HIKMICRO M Series.
HIKMICRO menempatkan thermal imaging camera seperti M Series sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan non-invasive terhadap kondisi equipment. Dalam aplikasi energi surya, misalnya, regular thermal scan dapat membantu menemukan overheating, electrical fault, maupun indikasi degradasi sehingga maintenance dapat dilakukan secara lebih proaktif.
Pada kebutuhan industri, konsep yang sama dapat diterapkan untuk inspeksi berbagai electrical maupun mechanical equipment. Contohnya HIKMICRO M60, yang menggunakan thermal resolution 640 × 480 dan dapat digunakan untuk menampilkan distribusi temperatur dalam detail yang tinggi. Informasi mengenai seri ini juga dapat dilihat melalui pembahasan thermal camera dan infrared thermometer.
HIKMICRO juga menyediakan software untuk membantu pengguna melakukan analisis thermal image serta membuat laporan hasil pemeriksaan, sehingga dokumentasi condition monitoring dapat dilakukan dengan lebih sistematis. Pilihan thermal camera tentunya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan inspeksi, seperti:
- thermal resolution;
- rentang temperatur;
- thermal sensitivity;
- objek yang diperiksa;
- jarak inspeksi;
- kebutuhan dokumentasi; dan
- kondisi lingkungan kerja.
Informasi mengenai pilihan thermal camera HIKMICRO juga tersedia melalui EMS Technology. Untuk kebutuhan thermal inspection, EMS Technology menyediakan solusi thermal imaging HIKMICRO untuk berbagai kebutuhan inspeksi dan maintenance industri. Pemilihan thermal camera dapat disesuaikan dengan jenis equipment, rentang temperatur, resolusi yang dibutuhkan, serta kondisi inspeksi di lapangan.
View this post on Instagram
FAQ tentang Condition Monitoring
1. Apa yang dimaksud dengan condition monitoring?
Condition monitoring adalah proses pemantauan kondisi aktual suatu mesin atau equipment menggunakan parameter tertentu seperti temperatur, vibration, arus, tegangan, suara, atau kondisi lubricant.
2. Apa perbedaan condition monitoring dan preventive maintenance?
Preventive maintenance umumnya dilakukan berdasarkan jadwal atau interval tertentu. Condition monitoring menggunakan data kondisi aktual equipment sebagai dasar untuk mengetahui kapan pemeriksaan atau maintenance perlu dilakukan.
3. Parameter apa yang digunakan dalam condition monitoring?
Parameter yang umum digunakan antara lain temperatur, vibration, arus, tegangan, suara atau ultrasonic, serta kondisi lubricant. Parameter dipilih sesuai equipment dan jenis potensi kerusakan yang ingin dideteksi.
4. Apa fungsi thermal camera dalam condition monitoring?
Thermal camera membantu melihat distribusi temperatur pada equipment sehingga teknisi dapat menemukan hotspot atau temperature anomaly yang berpotensi menunjukkan adanya gangguan.
5. Apakah HIKMICRO M Series dapat digunakan untuk inspeksi industri?
Ya. Thermal camera HIKMICRO M Series dapat digunakan untuk berbagai thermal inspection dengan melihat pola distribusi temperatur dan membantu menemukan temperature anomaly pada equipment. Pemilihan model tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi.










